Korps Mubaligh Jakarta (KMJ) Menilai Dewan Pers Telah Menerapkan Standar Ganda

RIMANEWS- Korps Mubaligh Jakarta (KMJ) menilai Dewan Pers telah menerapkan standar ganda dalam kasus pemuatan kartun yang menghina Islam oleh The Jakarta Post (JP). KMJ menunjuk anggota Dewan Pers Stanley Adhi Prasetyoyang menilai pemuatan karikatur Jakarta Post bukanlah pidana. Menurut Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Korps Mubaligh Jakarta (KMJ), Edy Mulyadi, Stanley juga gegabah dengan menyatakan umat Islam di Indonesia tidak memahami makna kartun yang dimuat harian yang sahamnya dimiliki Jusuf dan Sofjan Wanandi, Kompas, Tempo , dan Suara Pembaruan tersebut. Baca Juga JK: Masjid Harus Moderen KPK Ajari Anak-Anak Bahaya Korupsi “Perasaan Saya Hancur” “Stanley itu bukan muslim. Bagaimana mungkin dia bisa menyatakan ummat Islam Indonesia tidak memahami makna kartun itu? Kalau dia muslim, pasti dia tahu persis, bahwa laa ilaaha illallah adalah kalimat tauhid yang harus dijunjung tinggi. Saya minta Stanley atau siapa pun tidak menambah keruh persoalan ini dengan pernyataan-pernyataan yang ngawur,” kata Edy, di Jakarta, Rabu (16/7/2004). Pernyataan Edy itu menanggapi pemberitaan harian Tempo edisi (16/7) di halaman 8 yang berjudul “ Pemuatan Karikatur di Media Bukan Pidana ”. Di situ antara lain ada pernyataan Stanley,anggota Dewan Pers, bila pemuatan kartun dianggap pidana, akan melanggar prinsip-prinsip kebebasan pers. Dia mengatakan, JP hanya sebatas pelanggaran etik. JP, kata Stanley, telah melanggar pasal 5 UU NO.40/1999 tentang Pers. Sehubungan dengan itu, Edy menegaskan, Stanley harus tahu, bahwa kalimat tauhid yang bermakna ‘tiada tuhan selain Allah’ bagi ummat Islam sangat sakral. Setiap muslim rela mengorbankan apa pun yang dimilikinya, termasuk nyawa, jika ada pihak lain yang melecehkan kalimat tauhid itu. Ini adalah prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Jadi, lanjut dia, orang yang bukan beragama bukan Islam jangan membuat pernyataan tentang tauhid yang sama sekali tidak dipahaminya. Karena hal itu hanya akan menambah keruhnya suasana. Berat Sebelah Edy juga menyoroti Dewan Pers telah menerapkan standar ganda dan berat sebelah dalam masalah pemberitaan. Untuk kasus penghinaan terhadap agama yang begitu keji, lembaga ini menegaskan kasusnya bukan pidana. Sebaliknya, mereka begitu ngotot menyeret-nyeret kasus Obor Rakyat ke ranah pidana. Menurut Edy, pernyataan Stanley yang sangat arogan tentang Obor Rakyat antara lain bisa dibaca di situs Metrotvnews.com di bawah judul Dewan Pers: Penyelesaian Obor Rakyat tak Cukup dengan Maaf. Di situ antara lain dituliskutipan Stanley,“KasusObor Rakyatkan standarnya tak dipenuhi dan tidak jelas pertanggungjawabannya, jadi tidak cukup dengan permintaan maaf karena fitnahnya luar biasa. Muatan SARA di tabloid itu tinggi sekali. Tak akan selesai dengan minta maaf, jadi silakan diselesaikan dengan pidana.” Edy lebih lanjut menyatakan keheranan dirinya dengan Stanley. “Stanley, ada apa dengan kamu? Untuk seorang Jokowi kamu membela habis-habisan hingga mengeluarkan pernyataan begitu keras. Tapi ketika Islam dinistakan, kamu berpendapat itu hanya pelanggaran etik. Fitnah yang dilakukan Jakarta Post jauh lebih keji. Muatan SARA-nya juga jauh lebih tinggi lagi,” ujar Edy. Menurut dia, pernyataan Stanley itu jelas-jelas menerapkan standar ganda. Yang lebih penting, kata dia, Stanley telah menunjukkan kebencian luar biasa terhadap Islam dengan berlindung di balik kebebasan pers. “Saya yakin, kebencian yang ada di dalam hatinya, jauh lebih besar lagi,”kata Edy. Sampai berita ini diturunkan, redaksi belum mendapatkan tanggapan apapun dari pihak Dewan Pers. Pesan singkat yang kami kirimkan kepada Ketua Dewan Pers Bagir Manan, belum direspon. KMJ secara resmi melaporkan harian The Jakarta Post ke Markas Besar Kepolisian RI (Mabes Polri), Selasa (15/7). KMJ menilai kartun yang dimuat harian berbahasa Inggris pada Kamis, 3 Juli 2014 halaman 7 itu jelas-jelas telah menghina serta menistakan Islam dan ummatnya. [heng] Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : Opini , Dewan Pers , Standar Ganda , Jakarta Post , Korps Mubaligh Jakarta (KMJ) , Opini , Dewan Pers , Standar Ganda , Jakarta Post , Korps Mubaligh Jakarta (KMJ)

Sumber: RimaNews