Jangan Sering Ngopi di Cafe Kalau Mutu Kopi di Kampungmu Masih Rendah

Rimanews – Kopi dan traveler itu ibarat bunga dan tangkai, teman setia traveler. Rata-rata traveler adalah pengopi, meski tentu ada pula sebagian lain yang ‘pengeteh’ atau ‘penyusu’. Traveling makin asyik kalau di sana sini diisi dengan ngopi. Mengepak barang sambil ngopi. Memandang matahari senja di penginapan sambil ngopi. Menunggu bus, kereta api atau pesawat sambil ngopi. Membuat tulisan hasil traveling sambil ngopi. Masalahnya, dimanakah kamu ngopi, kopi apa yang kamu minum? Ini dia yang seru untuk dibahas. Saya ini pengopi berat. Entah sudah berapa cangkir kopi saya teguk. Sejak balita saya dicekoki beberapa tetes kopi, konon untuk menghidari step. Setelah remaja, saya minum secangkir kopi. Dewasa, meningkat menjadi 2 cangkir kopi sehari. Kopi kampung kental agak pahit, banyak kopi dan sedikit gula. Rasanya, semriwing. Sensasi rasa yang spesial. Aroma khas kopi, rasa pahit dengan manis samar itu seperti memberi kelengkapan. Bak memberi spirit dan gairah beraktivitas. Tak lengkap hari rasanya kalau belum ngopi. Beribu-ribu cangkir kopi telah merevolusi hidup saya. Kamu juga kan, ah iya. Baca Juga Jupe dijenguk Ketua MPR & Eko Patrio saat terbaring sakit Jawaban Deddy Corbuzier soal kabar sulam alis Ibu tiri Teuku Rassya dipuji pamer paha mulus saat liburan Jika sedang tidak berada di rumah, entah sedang tugas sampai malam atau bahkan tugas luar, saya ngopi sedapatnya. Pada situasi itu, saya terpaksa ke cafe. Menyeruput secangkir kopi entah di starb*ck, kopi t*am, atau killin*y kopi. Kadang kala, jika darurat, saya minum kopi kemasan. Baca Selengkapnya Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : travel , Gaya Hidup , gayahidup

Sumber: RimaNews